Batasan di Hari-Hari Duka Imam Husein

Tanya:

Salaam ustadz Berkenaan dengan hari-hari berduka, ini tidak ditemukan dalam kaidah Ushul kan ya ustadz? Jadi sering dapat dilema ustadz, antara 10 hari pertama Muharram itu kan pada serius berduka. Lalu 40 hari setelahnya mulai lebih “renggang” walau masih momen-momen berduka. Masalahnya, kehidupan masyarakat kami banyaknya Sunni. Jadi kami tidak bisa mengambil contoh di lingkungan ini, bagaimana cara menjaga spirit tragedi Karbala. Kami ingin meminta kejelasan, batas-batas duka yang perlu dijaga oleh setiap pengikut Ahlulbait, baik 10 hari pertama maupun 40 hari setelahnya. Jazakallah Khair ustadz.

Jawab:

Pertama, memang tidak harus dalam keadaan sedih selama 40 hari, namun yang tidak boleh adalah melakukan hal-hal yang bertentangan atau kontradiksi dengan kesedihan dan duka, seperti mengadakan pesta, berbuat hura-hura dan sejenisnya.

Kedua, yang lebih penting untuk diperhatikan adalah memanfaatkan hari-hari ini untuk lebih mengenal dan meningkatkan makrifah kita kepada Imam Husein dan perjuangannya dengan memperbanyak menghadiri majlis seperti yang dilakukan di beberapa negara seperti Iran dan Irak majlis tidak berhenti di tanggal 10 Muharram, namun berlanjut hingga akhir Safar dengan pola yang berbeda, bisa jadi di rumah-rumah secara bergantian atau sekedar membaca doa ziarah atau membaca kisah Imam Husein dan sejenisnya. Ini yang mungkin belum dilakukan di komunitas kita di Indonesia.

Ketiga, setelah memahami dan memiliki makrifah terkait sejarah Imam Husein dan perjuangan tentu setiap kita harus memiliki tekad untuk merefleksikannya dalam kehidupan kita, dengan kata mengambil bagian untuk melanjutkan perjuangan Imam Husein dalam kehidupan kekinian, besar atau kecil, personal atau komunal harus ada yang dilakukan sehingga kita selalu dicatat bersama Imam Husein dan para sahabatnya sepanjang masa dan kelak dibangkitkan bersama mereka.