Tata Cara Salat Istisqa dalam Madzhab Syiah Ahlul Bait AS

Tanya:
Bagaimana cara salat Istisqa dalam madzhab Syi’ah Ahlul Bait AS?
Jawab:
Salat Istisqa dalam madzhab Syi’ah Ahlul Bait AS pelaksanaannya sama dengan salat Idul Fitri dan Idul Adha, yaitu dia rakaat, pada rakaat pertama membaca surah Al Fatihah lalu salah satu surah Al Quran lalu takbir lima kali.
Pada rakaat kedua membaca surah Al Fatihah dan salah satu surah Al Quran lalu takbir empat kali.

Qunut dianjurkan juga antara satu takbir dengan launnya.

Selanjutnya ditekankan pelaksanaan Adab-Adab Salat Istisqa seperti yang disampaikan oleh Imam Khomeini dalam kitab Tahrir al-Wasilah, diantaranya:

1. Mandi Sunah (Ghusl)

Mandi untuk melaksanakan salat istisqa termasuk mandi sunah yang berkaitan dengan suatu perbuatan yang hendak dilakukan atau sesuatu yang diharapkan dapat terwujud.


2. Amalan-Amalan Sunah dalam Salat Istisqa

Ada beberapa amalan yang disunahkan dalam pelaksanaan salat istisqa, di antaranya sebagai berikut.

Pertama: Mengeraskan bacaan salat.

Disunahkan mengeraskan bacaan dalam salat istisqa serta membaca surah-surah yang disunahkan dalam salat Id.

Kedua: Berpuasa selama tiga hari.

Disunahkan agar masyarakat berpuasa selama tiga hari. Pada hari ketiga, mereka keluar untuk melaksanakan salat istisqa. Hendaknya hari ketiga tersebut jatuh pada hari Senin. Jika tidak memungkinkan, hendaknya dilaksanakan pada hari Jumat, karena hari Jumat memiliki kemuliaan dan keutamaan.

Ketiga: Keluar menuju tempat salat dengan penuh ketenangan dan kerendahan hati.

Imam bersama masyarakat hendaknya keluar menuju padang terbuka dengan tenang, penuh wibawa, khusyuk, dan menunjukkan sikap memohon pertolongan kepada Allah.

Mereka hendaknya memilih tempat yang bersih untuk melaksanakan salat. Lebih utama apabila mereka keluar dengan keadaan yang dapat mendatangkan rahmat Ilahi, misalnya dengan berjalan tanpa alas kaki.

Keempat: Membawa mimbar dan mendahulukan para muazin.

Disunahkan membawa mimbar ke padang terbuka, sementara para muazin berjalan di depan imam.

Kelima: Membawa orang-orang lanjut usia, anak-anak, dan hewan ternak.

Menurut keterangan yang disebutkan oleh para ulama, orang-orang lanjut usia, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak, serta hewan ternak hendaknya dibawa bersama ke tempat pelaksanaan salat.

Anak-anak dan ibu-ibu mereka dianjurkan dipisahkan agar tangisan dan ratapan mereka semakin terdengar, dengan harapan hal itu menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

3. Amalan Setelah Salat Istisqa

Setelah imam selesai melaksanakan salat, disunahkan baginya melakukan beberapa amalan berikut.

A. Membalik posisi jubah

Imam membalik posisi jubahnya dengan cara meletakkan bagian kanan jubah di atas bahu kiri, dan bagian kiri di atas bahu kanan.

B. Naik ke mimbar dan mengucapkan zikir

Imam naik ke mimbar, menghadap kiblat, kemudian mengucapkan zikir-zikir berikut:

  • Takbir sebanyak 100 kali, dengan suara keras.
  • Kemudian menghadap ke arah kanan jamaah dan membaca tasbih sebanyak 100 kali, dengan suara keras.
  • Kemudian menghadap ke arah kiri jamaah dan membaca tahlil sebanyak 100 kali, yaitu:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Lā ilāha illallāh — Tiada Tuhan selain Allah.

C. Kemudian menghadap kepada jamaah dan membaca tahmid sebanyak 100 kali, yakni memuji Allah. Tidak mengapa jika tahmid ini juga diucapkan dengan suara keras.

Jamaah diperbolehkan mengikuti imam dalam membaca zikir-zikir tersebut, termasuk mengeraskannya.
Cara ini diharapkan lebih dapat mendatangkan rahmat Allah dan memberikan harapan lebih besar bagi terkabulnya permohonan.

D. Berdoa dan merendahkan diri di hadapan Allah

Setelah itu, imam mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Jamaah juga berdoa bersama-sama.

Mereka hendaknya bersungguh-sungguh dalam berdoa, merendahkan diri di hadapan Allah, memohon kasih sayang-Nya, serta meminta pertolongan kepada Allah Yang Mahatinggi.

Jamaah juga diperbolehkan mengucapkan amin atas doa yang disampaikan oleh imam.

E. Menyampaikan khotbah

Selanjutnya, imam menyampaikan khotbah dengan penuh kesungguhan dalam menunjukkan kerendahan hati dan memohon kasih sayang Allah.

Lebih utama apabila imam memilih dan menggunakan sebagian doa atau khotbah yang diriwayatkan dari para Imam Maksum (as).

Di antaranya adalah khotbah yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib (as), yang diawali dengan kalimat:

الْحَمْدُ لِلّٰهِ سَابِغِ النِّعَمِ

Alhamdu lillāhi sābighin-ni‘am.

“Segala puji bagi Allah, yang melimpahkan nikmat-nikmat-Nya.”

Lebih utama pula apabila dalam salat istisqa disampaikan dua khotbah, sebagaimana dalam salat Idulfitri dan Iduladha. Adapun khotbah kedua dilaksanakan dengan niat rajā’an, yakni mengerjakannya dengan harapan memperoleh keridaan dan pahala dari Allah Swt.